BERBURU BURUNG

Maret 27, 2009

Aku mempunyai hobby maskulin yang sangat mengasyikkan; berburu burung. Bersama Dudung, kami merupakan duet pemburu ulung. Hobby dan duet kami bahkan tetap berlanjut hingga kami beranak pinak. Kami baru gantung senapan setelah  menginjak usia tigapuluhan. Tapi bukan karena usia kami pensiun. Kami berhenti berburu karena Bupati; Pak Untung Wiyono, melarang warganya berburu. Tak tanggung-tanggung. Bukan sekedar melarang, dia pasang sayembara, siapa warganya yang bisa menangkap penembak burung di wilayah Kabupaten Sragen – burung apapun, kecuali burung yang di celana – akan diberi hadiah lima juta rupiah. Paket lengkapnya adalah sebagai berikut; Lima juta bagi yang bisa menangkap penembak burung, sepuluh juta bagi yang bisa menangkap mereka yang mencari ikan dengan menggunakan racun, stroom, atau bahan peledak. Jadi bagi anda yang masih pengangguran, cobalah profesi baru ini; berburu perusak lingkungan di Sragen.

Kami berburu burung sejak kami sadar bahwa kami adalah laki-laki. Tantangannya,keluar masuk belukar, terasosiasi sebagai sebuah medan yang harus ditaklukkan oleh gerilyawan. Baca entri selengkapnya »

Cipret

Maret 27, 2009

Cipret adalah branjangan yunior. Tak ada beda dari keduanya, kecuali ukuran tubuhnya. Cipret bahkan lebih kecil ketimbang emprit.
Walau namanya cipret, bukan berarti bunyi kicaunya demikian. Kicaunya begini; ” klik…klik…klik…klik…”. Sambil begitu, diapun bergaya persis branjangan; mengambang di udara.
Burung ini memiliki areal favorit yakni di pinian. Areal penyemaian bibit padi. Tempat yang juga menjadi kesenangan belalalang kecil-kecil. Keduanya memilih tempat yang sama dengan alasan berbeda. Belalang berkepentingan dengan daun bibit padi yang segar dan lunak, sementara burung cipret justru berkepentingan atas dirinya. Hukum alam berlaku. Yang kuat memangsa yang lemah. Mata rantai itu berakhir di diriku dan Dudung.
Baca entri selengkapnya »

Branjangan

Maret 27, 2009

Jika anda bisa menangkap Detcu, anda bisa menangkap branjangan. Saperti yang sudah dibilang, binatang ini seselera dengannya soal KPR-BTN.  Keduanya memilih bongkahan di dasar tanah sebagai hunian.

Beda dari keduanya adalah dari cara masuk rumahnya. Detcu menyamarkan posisi sarangnya, dengan bertengger berlama-lama di sekita sarang. Begitu dirasa sepi, atau tidak ada yang melihatnya, dia akan meluncur ke dalam  hanya dengan sekali gerakan.  Kalau kita lengah mengamatinya, efeknya mirip sulap.

Branjangan lain lagi gayanya. Binatang ini terkenal sebagai jawaranya angkasa. Bacotnya tak berhenti berteriak, membelah langit. Suaranya gemerincing kayak penari Remo.  Tingkahnya sangat merdeka. Dia bisa terbang vertical, horizontal atau statis pada ketinggian tertentu.

Ketika hendak pulang, branjangan berputar putar dulu di langit, sambil teriak-teriak. Setelah puas bertingkah begitu, lalu  meluncur tajam, mendarat di sebuah titik, dan lenyap. Tapi jangan salah, bukan disitu tempatnya. Dia pasti mendarat tidak tepat di sarangnya. Pasti.   Ini bukan soal kesalahan navigasi, atau animal error. Ini tentang kecerdikannya. Biasanya dia mendarat di radius sepuluhan mater dari sarangnya. Lalu dia akan njrunthul ke sarangnya secara tersamar. Njrunthul itu – kujelaskan bagi yang bukan orang Jawa – artinya berlari membungkuk. Pernah lihat gerakan pasukan TNI ketika turun dari pesawat? Seperti itulah.

Baca entri selengkapnya »

Emprit

Maret 23, 2009

Target operasi terpopuler kami adalah burung emprit. Burung ini seperti sengaja dicipta Tuhan untuk kami. Jumlahnya berlimpah, hinggap dan terbang dalam koloni, dan tidak gampang takut sama manusia.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, saat tebang tebu adalah bencana bagi burung. “Hutan” mereka lenyap, hingga mau tidak mau mereka harus migrasi ke kampung-kampung. Tempat favoritnya adalah rumpun bambu dan pohon-pohon turus jalan.  Sedemikian banyaknya, hingga kadang kami bisa menembaknya dengan ngawur. Hanya dengan membidik segerombol dedaunan, koloni akan terbang brrrr…dan… bugh ! satu diantaranya ngikut gravitasi.


Burung emprit ini ada tiga jenis. Komunitas kanak-kanak telah menciptakan scoring dan disepakati sebagai ukuran. Emprit  paling tinggi nilainya adalah dari jenis Emprit Kaji. Sesuai namanya, burung ini berbadan coklat tua dan berkepala putih. Mirip kopyah pak haji. Mendapatkannya dalam kondisi mati saja membanggakan, apalagi jika dapat menangkapnya hidup-hidup.


Kelas kedua adalah Emprit Peking. Kalau yang ini aku tidak tahu filosofinya, kenapa dibilang demikian. Emprit ini bercirikan totol-totol putih pada badannya yang coklat.  Baik emprit Kaji maupun emprit Peking, lebih sering membikin sarang di sawah dan di kebun tebu.


Emprit  terakhir adalah emprit jawa atau emprit ndeso. Badannya kombinasi hitam-putih. Hitam di bagian punggung, sayap dan ekornya – kepalanya lebih hitam lagi – dan putih di bagian dada perut hingga ke kloaka. Sesuai namanya, burung berdaulat di perkampungan. Membikin sarang di pepohonan di kampung.


Emprit tidak selalu ditaklukkan dengan plintheng.  Kami bisa memulai dari sarangnya. Kami sudah hafal, tempat-tempat bagaimana yang biasa dipilih emprit untuk membikin sarang. Telah menjadi kesepakatan, begitu sebuah sarang telah diklaim sebagai temuan si Anu, semua akan menghargai sebagai milik si Anu. (Tentu selalu ada pelanggar hukum. Kalau tidak, darimana para politisi dan birokrat akan mendapatan kader-kadernya?)


Sarang tersebut diundhuh ketika telur telah menetas. Tepatnya, ketika anak-anak burung itu telah siap terbang.  Patokannya, mengunduh sarang paling lambat harus hari Kamis, sebab anak-anak burung itu akan inggat (bukan “minggat”, walau artinya sama) pada hari Jumat. Kenapa Jumat? Tidak tahu. Itu juga kata mbah Sukir. Kami percaya begitu saja, tanpa pernah bertanya, dimana para emprit menaruh kalendernya.


 Mengunduh burung pada usia segitu mempunyai dua keuntungan. Pertama, anaknya bisa dipelihara hingga besar. Kemungkinan matinya lebih sedikit dibanding ketika baru saja menetas, sebab sudah bisa mematok makanan sendiri.  Kedua, sekaligus bisa dipakai umpan untuk menangkap kedua induknya.


Caranya adalah dengan menaruh anak-anak burung tersebut di dalam sangkar. Sangkar tersebut lalu digantungkan pada pohon dimana sarang tadi diambil, dalam kondisi pintu terbuka. Terbukanya pintu ini karena ditarik dengan seutas benang. Kami akan menunggunya dari kejauhan sambil memegangi benang tersebut. Ketika anak-anak burung tersebut bercuap-cuap kelaparan, naluri sebagai orang tua dari kedua induknya akan memaksanya memasuki sangkar tersebut. Begitu induk itu masuk, benang dilepas, dan pintu tertutup. ( Kadang aku berpikir, mungkinkah Surga di bawah telapak kaki ibu itu termasuk ibunya emprit ).

Manyar

Maret 23, 2009

Burung ini mirip emprit. Merekapun pemakan biji-biji padi. Bedanya Manyar sedikit lebih besar. Warna bulunya semburat kuning. Dua hal yang mejadi cirri khas burung ini adalah pertama suaranya yang sangat hiruk pikuk, dan kedua sarangnya yang unik.

Suara burung manyar dapat dibedakan dengan sedemikian mudah dari burung lainnya. Gaduh, berantakan dan tak bercitarasa.  Ilustrasi indah dalam kisah-kisah di buku           “ …terdengar merdunya kicau burung-burung…,” dapat dipastikan minus burung ini.

Sarang burung ini bentuknya aneh. Ini sarang dari kaum sensasional. Bentuknya menggelantung dengan pintu menjuntai, seperti bentuk kepala Petruk. Dulunya mereka membikin sarang di cabang-cabang pohon yang tinggi dan besar, semacam flamboyan, klampis, kawis atau randu alas. Ketika pohon pohon raksasa itu bertumbangan (atas nama modernitas), manyar menemukan “pohon” yang baru; kabel dan tiang listrik SUTET.

Berburu manyar paling asyik jika di kebun jagung. Apalagi jika disertai angin atau gerimis. Kita hanya butuh keikalasn untuk basah kuyup.  Membidik manyar di tempat seperti ini, semudah memetik mangga.  Keributan angin dan hujan akan menyamarkan serangan kita. Pembantaian akan benar-benar mencapai puncaknya, apalagi jika alat kita adalah senapan angin berperedam suara. 

Walau burung ini relative produktif dalam berkembang biak, mereka tak mampu mengikuti laju kerakusan anak cucu Adam. Kini nasibnya hampir menyusul Dinasourus. Sejujurnya, aku ikut andil dalam mempercepat kepergiannya.

Srikatan

Maret 23, 2009

Nama resmi dari nenek moyang memang demikian; Srikatan. Tapi deviasi bahasa, membuat nama itu berubah menjadi Sikatan. Perubahan yang lucu, karena kata itu dalam bahasa Jawa juga berarti “gosok gigi”.
Keterpelesatan nama ini sering dipakai untuk joke. Seseorang sanggup membayar mahal untuk seekor burung Sikatan yang berhasil ditangkap. Ketika bener-bener ada yang bisa menangkapnya, dia berkilah bahwa yang dia maksud adalah burung yang bisa gosok gigi.
Srikatan berarti ‘tidak bisa diam”. Ini seratus persen menggambarkan tingkahnya. Burung ini benar-benar “Anti kemapanan”. Mereka hinggap di satu ranting hanya untuk ancang-ancang meloncat ke ranting yang lain. Ekornya yang panjang, dan kicaunya yang melengking-lengking, membuat segala tingkahnya nampak atraktif. Tak hanya ketika hinggap, Srikatan juga tidak bisa diam bahkan ketika terbang. Mereka terbang sembari bermanuver, dengan gerakan-gerakan yang akrobatik. Apalagi jika sedang mengejar mangsa. Makanannya adalah segala serangga yang bisa terbang. Kupu-kupu, dan capung adalah favoritnya.
Kami juga menjadikan srikatan sebagai obyek berburu. Tapi, itu hanya untuk kepuasan berburu. Tak ada yang doyan daging Srikatan. Pasalnya, Srikatan adalah binatang yang jorok. Sukanya berkeliaran di sekitar kakus. Maklumlah, kakus di jaman itu adalah kakus ala kadarnya. Konstruksinya yang tidak benar-benar water closed, mengundang kehadiran serangga pengurai. Kehadiran itulah yang akhirnya berefek domino. Mengundang kehadiran Srikatan.
Keberhasilan membidik jatuh Srikatan, membawa kebanggaan tersendiri. Sukses itu merupakan hal yang spektakuler, karena hampir-hampir sama dengan keberhasilan dalam membidik sasaran bergerak.
Lalu bagaimana burung itu diperlakukan setelah berhasil ditembak jatuh? Menyedihkan sekali, jawabnya adalah; dibuang. Orang-orang pinter mungkin akan menyebut kami psikopat kecil-kecilan. Tapi kami punya justifikasi; memberi makan gukguk atau si Pus.
Dulu burung ini sama sekali tak berkelas. Tapi kini, sesuai dengan hukum kelangkaan dalam pasokan (scarcity in supply), Srikatan telah naik kasta. Beberapa hobiis mulai mengkoleksinya. Walau belum ada kejuaraan berkategori Srikatan, tapi beberapa kalangan telah bisa menerimanya sebagai master.
Sarang burung Srikatan sangat simple. Berbentuk mangkuk, dengan ukuran yang span, hanya cukup untuk sekedar mendekam. Ekornya, tetap nongol keluar. Barongan atau rumpun bambu adalah lokasi yang paling sering dipilih untuk membuat sarang.
Kicau burung srikatan, bagus sekali. Ungkapan tentang merdunya burung baru tepat jika diwakili oleh kicau burung ini. Srikatan, adalah burung yang luar biasa enerjik. Baik dari tingkahnya maupun kicaunya.

nDali

Maret 23, 2009

Orang Sunda menyebutnya sebagai Dadali.  Burung ini sekeluarga dengan Walet dan Sriti. Bagi yang tidak terbiasa melihatnya, akan menganggap ketiganya sama. Apalagi ketiganya sering berbaur dalam mencari makan.

Walet dan Sriti, keduanya berbadan lebih kecil. Antara keduanya berbeda warna bulunya. Tapi agak susah bagi orang awam untuk membedakan. Yang gampang, adalah dari suaranya.  Keduanya bersuara mencicit, tapi walet suaranya lebih pecah.

Lebih gampang lagi, dari sarangnya. Sriti,  menggunakan liur dan material lain berupa rumput-rumputan, daun cemara atau daun pinus. Sedang Walet sepenuhnya menggunakan liurnya dalam membikin sarang.

nDali, berbadan lebih besar dari keduanya. Warna bulunya tegas, hitam-putih. Ndali jantan separo kepalanya merah, sedang betina seutuhnya hitam.

Alamat burung ini misterius. Kami tidak pernah tahu, dimana mereka tinggal. Yang kami tahu, pada musim-musim tertentu, mereka nongol dengan jumlah yang sangat banyak.

Musim membajak sawah adalah salah satu contohnya. Kala itu, traktor tangan belum sampai di “negeri” kami. Membajak, pasti dengan kerbau atau sapi. Bau badan binatang tersebut mengundang serangga-serangga parasit datang.

Bagi  kawanan ndali, binatang-binatang kecil tersebut adalah sarapan dan makan siangnya. Alhasil rombongan burung akan senantiasa terbang dan berputar-putar di sekitar pak tani yang sedang membajak ini, sepanjang hari. Ini menjadi pentas alam yang begitu cantik.  Sementara ndali sibuk dengan serangganya, kerbau atau sapi menarik bajak sambil menikmati senandung yang didendangkan oleh pak Tani. Senandung ini, – kami menyebutnya dengan istilah eyo eyo – selalu dilantunkan setiap membajak sawah. Sepertinya pak Tani hendak meyakinkan pada ternaknya, bahwa ini adalah sebuah kerjasama yang bersahabat. Bukan eksploitasi.

Pemandangan paling atraktif terjadi ketika burung-burung ndali istirahat di kebun melon. Di kebun melon, terdapat ribuan pancang bambu. Ini sengaja dibuat karena melon termasuk tanaman merambat.  Jarak antar tanaman begitu rapat, sehingga ketika kawanan burung ini kompak hinggap di atasnya, akan nampak totol-totol hitam di setiap ujung pancang.

Bukan saja indah, posisi atau kondisi ini juga sangat menggiurkan bagi yang sedang membawa plintheng. Hanya dengan bidikan yang tidak perlu terlalu akurat – cukup memperhitungkan ketinggiannya saja –  kita bisa menjatuhkan satu, dua bahkan tiga ekor dalam sekali tembak. Masuk akal, sebab meleset di satu burung, masih sangat mungkin kena di burung yang ada di samping dan atau belakangnya.

nDali adalah kawanan burung yang tidak bisa “diselesaikan” dengan jaring. Aku pernah terbengong-bengong ketika suatu saat bermaksud menjaringnya.

Saat itu ratusan ekor burung, terbang sangat rendah, berputar-putar di satu titik. Rupanya di situ banyak serangga. Sudah terbayang di depan mata, hari itu aku bakal panen raya. Tetapi begitu jaring telah kupasang, mereka dengan sangat mudah bisa menghindarinya. Gayanya yang seolah-olah hendak menabrak, tetapi kemudian meloncatinya, persis atlit haling rintang. Menggemaskan sekali.

Kucari-cari, apa yang salah dengan peralatanku.  Semua telah terpasang sebagaimana mestinya. Rupanya memang tidak ada yang salah, kecuali satu hal, yakni  bahwa aku melupakan apa yang dimakan  burung-burung itu. Tentu saja mereka bisa mendeteksi adanya jaring, karena “pekerjaan” mereka saban hari adalah mengejar serangga terbang yang ukurannya jauh lebih lembut ketimbang jaring.  Memasang jaring untuk mereka, hanya akan memperoleh kejengkelan.

Detcu

Maret 23, 2009

Ini burung paling  legam di habitat sawah. Bagi yang pernah melihat Kacer, burung ini adalah miniatur darinya. Semua sama persis, kecuali ukuran tubuh dan kicaunya. Badannya cuma segedhe burung gereja, tetapi kicaunya lantang melengking dengan cengkok meliuk-liuk. Sulit dideskripsikan.

Binatang ini mempunyai kebiasaan unik, sama dengan burung ndali. Keduanya enggan hinggap pada cabang atau ranting atau pohon hidup. Maunya di cabang-cabang atau benda apapun yang kering, meranggas atau mati. Dia baru hinggap di cabang berdaun, ketika tidak ada pilihan lain.

Kebiasaan inilah yang menjadikan blunder untuknya. Kami dengan mudah bisa menangkapnya, ketika orang awam berpikir mustahil. Caranya adalah; cukup olesi dua atau tiga titik – biasanya pancang bambu. Ini sering terdapat di sawah – dengan pulut. Untuk mendeteksi apakah pancang itu sering dihinggapi, adalah dengan melihat bekas kotoran yang belepotan di sekujur pancang itu. Kalau  bersih, itu artinya tidak pernah dihinggapi burung.

Jika pancang sudah dipasangi pulut, pekerjaan selanjutnya tinggal finishing yang teramat gampang. Giring detcu ke pancang yang kita kehendaki. Dijamin burung itu akan hinggap di situ. Kenapa ? Karena kebiasaannya sudah terlanjur melekat. Dia hanya hinggap di benda-benda mati. Di sawah, tak banyak pilihan, kecuali pancang-pancang bambu itu. 

Karakter khas lainnya adalah, sangat lantang di alam bebas, tetapi langsung mogok semogok mogoknya, ketika berada dalam sangkar. Itulah sebabnya burung ini bukan burung favorit untuk dikandangkan. Hanya mereka yang telah punya jam terbang memadai, yang bisa “membujuk” detcu ngoceh di sangkar.

Seperti kebanyakan burung ocehan lainnya, hanya Detcu jantan yang layak masuk sangkar. Detcu betina tak berharga. Disamping kicaunya yang tidak menjual, warnanya juga kurang menarik. Coklat kemerah merahan, dengan bercak hitam dan putih.

Jika soal hinggap seselera dengan ndali, maka dalam hal membikin sarang, burung ini memiliki kesamaan dengan burung Branjangan.  Mereka membikin sarang tidak di puncak pohon atau semak belukar, tapi di balik bongkahan tanah di tegalan. Benar-benar di dasar tanah. 

Walau begitu, bukan perkara mudah menemukannya. Burung ini cukup lihai membuat rumahnya tersamar. Mereka faham betul kalimat keep out of reach of children. Hanya nasib baik yang bisa membawa kita menemukan sarangnya.

 Menangkap detcu di bungkernya, mudah saja.  Tinggal tunggu matahari lenyap, lalu dengan mudah kita bisa “menggerebeknya”.  Sungguh, binatang ini perlu mengoreksi pilihan lokasi tempat tinggalnya. Semestinya dia ingat bahwa dia punya sayap.

Ciblek

Maret 22, 2009

Dari asal muasalnya, ini nama sebenar-benarnya sejenis burung. Hanya karena terlalu seringnya nama itu “dipinjam” wartawan, Ciblek akhirnya lebih terkenal sebagai julukan untuk para PSK yang masih bau kencur.

Burung ini adalah prenjak versi sawah. Keduanya beda tipis. Prenjak berkepala merah, sementara ciblek berkepala kelabu pucat. Kaki prenjak juga sedikit lebih pendek. Ini sesuai dengan habitatnya. Prenjak hidup dari pohon ke pohon, sementara ciblek lebih sering berjalan di pematang atau jalan-jalan di sawah.

Ciblek, merupakan sobat karib Cipret. Baik makanannya, tempat cari makannya, maupun tempat tidurnya, sama. Kalaulah ada tempat yang disuka ciblek, tapi tidak untuk cipret, itu adalah kebun tebu.

Seselera di soal perut, bantal dan guling, keduanya berbeda soal bagaimana seharusnya seekor burung harus bersenandung. Jika cipret suka berklik-klik sambil bulat-ulat menjiplak gaya branjangan, ciblek lebih suka meniru suara kucing.

“Ngeong…ngeong…,” begitu. Sungguh, ini nyata adanya.  Bagi mereka yang kuping dan matanya tidak pernah di bawa ke kebun tebu, dijamin akan terkecoh. Anda akan berpikir, siapakah yang menaruh ikan asin di tengah-tengah kebun tebu, sehingga mengundang kucing datang. Padahal  itu – suara mengeong itu -  hanyalah ulah burung kecil bernama ciblek. Kayaknya burung ini menyesali nasibnya sebagai unggas, dan terobsesi untuk menjadi mamalia.  

Baik ciblek dan cipret, hanya masuk akal untuk ditangkap dengan tangan kosong. Peluru ketapel bisa saja menjatuhkannya, tapi sekaligus juga akan membuatnya hancur lebur. Jaring tak akan bisa menangkapnya, karena ukuran badannya yang lebih kecil ketimbang lebar mata jaring. Pulutpun bukan cara yang cerdas. Kita hanya akan bisa membuatnya nempel, tapi tidak untuk lepasnya kembali, kecuali dengan mencabik-cabiknya. Tubuhnya terlalu rapuh untuk bisa dilepas dari   pulut.

Penthet

Maret 22, 2009

Ada yang menyebutnya dengan “Cendhet”. Bersama Branjangan dan Detcu, Penthet menduduki tiga besar burung sawah yang bernilai di pasar burung.

Penthet berwarna orange. Dadanya putih, dengan kepala hitam. Hitamnya kepala ini juga sekaligus merupakan salah satu criteria penghoby burung dalam memilih penthet.  Semakin rata hitam kepalanya itu hingga ke tengkuk, semakin berharga.

Burung ini termasuk unggas buas. Dia tidak hanya makan serangga, tapi juga cacing, kepiting kecil-kecil, bahkan anak tikus. Tak heran jika tubuhnya dilengkapi dengan paruh dan sepasang cakar yang kuat dan tajam. Sedemikian kuatnya sepasang jemari kaki itu, sehingga burung ini tidak selalu otomatis jatuh ketika kena tembak. Dia masih bisa mencengkeram kuat ranting yang dihinggapinya, walau dirinya telah tergantung dalam keadaan tewas. Pemburu burung yang sudah kawakan, hafal dengan hal yang demikian.

  Postur yang demikian disempurnakan lagi dengan sepasang matanya yang sangat awas. Menjerat burung penthet, sungguh fantastis. Matanya yang super tajam, berbanding terbalik dengan otaknya yang tumpul. Dari ujung tertinggi sebuah pohon, mata penthet mampu menangkap gerakan insekta kecil yang meronta-ronta di dalam lingkaran jerat. Meluncurlah dia dengan derasnya menuju sasaran. Itu luncuran terakhirnya, sebelum kami dia vonis masuk penjara seumur hidup.

Kicau penthet sangat bervariasi. Orang bilang Ini burung serba bisa. Tapi bagiku, penthet itu binatang tak berpendirian. Bagaimana tidak. Saat dia sendirian, dia akan mengoceh sebagai dirinya sendiri. Tapi begitu ada atau mendengar suara burung lain, katakanlah kutilang, maka diapun akan bernyanyi layaknya kutilang. Mendengar ngeongnya ciblek, dia juga akan ikut mengeong, bahkan banyak penthet yang dipelihara di kampung-kampung, akhirnya berubah menjadi ayam. Berkotek-kotek. Benar-benar salah asuhan.

Penthet hanya suka hinggap di puncak pohon yang paling tinggi.  Baginya, tertinggi adalah lambing supremasinya. 

Itu gayanya di alam bebas. Ulahnya di sangkar lain lagi. Di sangkar, penthet mempunyai kebiasaan salto. Ini barangkali kompensasi karena ketidakbebasan di situ. Kebiasaan ini mati-matian dilenyapkan oleh para penghoby, sebab semakin sering salto, semakin tak bernilai burung itu.

Gaya terhebat yang dikendaki para kicau mania  adalah berkicau segacor-gacornya, sambil berdiri tegak. Istilahnya; nanggen. Hal yang belum tentu hebat menurut si burung  sendiri. Tapi itulah manusia.

Penthet dapat ditemukan di hampir seluruh sawah di pulau jawa. Tapi, lagi-lagi menurut penghoby burung – penthet kualitas terbaik adalah yang berasal dari Madura. Badannya gedhe, kepala hitam legam hingga ke tengkuk, dan garang.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.