TENTANG BLOG INI
Dua dari sekian banyak perbedaan antara manusia dan kecoak adalah, pertama bau pipisnya, kedua kemampuannya dalam memaknai lambang-lambang bernama huruf.
Biarkan perbedaan yang pertama menjadi urusan ahli insekta. Kita omongin aja perbedaan keduanya. Huruf, adalah peradaban milik manusia murni. Lambang yang hanya berjumlah duapuluh enam biji itu (plus beberapa tanda baca), memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Hanya dengan mempermainkan kombinasi lambang-lambang itu, manusia bisa menangis dan tertawa sendiri. Kombinasi itu juga bisa membikin rukun dan berantem. Dan yang paling aneh, huruf-huruf itu pun bisa bikin manusia (maaf) ejakulasi.
Masih banyak lagi kekuatan yang bisa dihasilkan oleh permainan kombinasi lambang-lambang itu. Kisah baratayuda dan ramayana yang pementasannya butuh waktu semalam suntuk, tak perlu harus disaksikan selama itu, dan tak haus dengan pergi ke Candi Prambanan atau nanggap pak mantep. Cukup ke Gramedia. (Saya tidak merekomendasikan untuk ke perpustakaan. Ditempat itu, hanya ada buku Ini Budi)
Walau dahsyat, sayangnya huruf masih menjadi bebuyutan beberapa kalangan. Banyak keluarga yang hafal seluruh acara TV (bahkan hafal lirik jingle iklannya sekaligus), tapi bengong soal Supernova atau Maryamah Karpov. Mereka mengenal Laskar Pelangi dan Ayat Ayat Cinta sebagai sinema, bukan buku. Kelompok ini, punya guyonan khas.Kalau ada orang sedang serius membaca, ledeknya adalah, ” Besok ujian ya …?”. Mereka benar-benar tidak akrab dengan huruf. dan sayangnya, beberapa diantaranya – bangga dengan itu.
Sementara itu, pada kelompok yang lain, hal yang lebih parah ada padanya. Mereka bahkan sama sekali tidak bisa baca tulis. Depdikbud bilang; buta huruf. Saya tidak hendak mengatakan bahwa mereka adalah kecoak. Tapi, sebagai manusia, mereka benar-benar tercecer jauh di belakang. Di banyak tempat, nun jauh di jantung hutan, yang hanya bisa ditembus oleh Tarzan, kehidupan mereka baru sedikit lebih maju dibanding manusia jaman batu. Tragis dan layak dikasihani. Semoga 20% APBN yang konon dialokasikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sampai ke sana.
Oleh karena itu, anda-anda yang jauh lebih beruntung, nikmati keberuntungan itu. Sederet tuts di depan anda, bisa untuk mengguncang dunia. Tulis ! Tulislah apa saja. Lupakan tema, topik, kategori, gaya bahasa, EYD, atau segala kecentilan ilmiah yang didoktrinkan oleh guru bahasamu. Tulislah, apapun yang terlintas di benakmu, tentang apapun yang kamu lihat. Tentang sendal jepit, capung yang lagi kawin, atau tentang kebiasaan ngilermu ketika tidur. Apa saja. Banyak penulis besar yang karyanya mendunia, pada mulanya menulis untuk satu tujuan; menulis tanpa tujuan.
Di blog ini, anda bisa menulis apa saja. ( Tentu tidak termasuk hal-hal yang oleh nilai-nilai universal dilarang atau tidak pantas. Bahasa padatnya; SARA. Suku, Agama, Ras, dan Anatomi tubuh !).
Saya telah banyak membaca tips yang diberikan para penulis yang telah mapan. Kesimpulannya sama. Untuk menjadi penulis (atau untuk sekedar menulis), maka yang harus anda lakukan adalah; tulis ! Lakukan dan lupakan, untuk apa dan kemana hasil karya itu akan terdampar.
Pendapat konyol yang sayangnya masih banyak diyakini sebagai kebenaran, adalah bahwa tolok ukur keberhasilan menulis adalah jika telah termuat di media massa. Ini absolutely, salah !
Karya-karya besar, banyak yaang ditemukan bukan dari meja redaksi surat kabar. karya-karyaa itu ditemukan di daun-daun lontar, di lembar-lembar kertas yang tercecer di sel penjara, atau di buku diary, dibawah bantal dimana seseorang telah menjadi mayat dia atasnya. Karya-karya besar, juga bisa tertangkap di TKP yang lain; di blog !
Jika anda orang yang tidak senang dengan kertas yang kosong dan bersih, gatal untuk berakrab akrab dengan pena atau tuts keyboard, sering merasakan ada yang berputar-putar di kepala tapi susah keluar -mirip perut kembung yang susah kentut -, dan baru lega setelah keluar dalam abcdefgh…, anda adalah teman saya. anda tengah membuka blog yang benar, dan anda layak serta berhak mengacak-acak sekacau yang anda suka. This blog is a hundred percent yours !!!.

Maret 3, 2009 pada 4:41 pm |
omah kok pindah pindah, apa sesuai strata keilmuannya tho, sesuai derajat “ngeh”nya yang makin mundhak, blog nya makin apik kali yo…
Maret 7, 2009 pada 2:13 pm |
Kuwi jenenge “Dinamis” pak… Berubah belum tentu baik, tapi untuk menjadi lebih baik, harus berubah. So, it must be done, oke ?
Maret 11, 2009 pada 5:20 am |
Ass. Piye Kabare mas..! aku wes baca sekelumit tentang mu yang aku ga pernah tahu. aku sangat bersyukur pernah mengenal dan berteman dengan mu yang tak pernah melupakan semua tentang masa lalu. Aku ga pernah menyangka dibalik sosok ceria dan guyonan mu aku menyimpan suatu rahasia besar, sejak kapan kamu menderita sakit itu mas. dan aku jadi merasa bersalah karena aku tak pernah mau tahu dengan masa lalu. maafkan aku ya mas terlambat mengetahui rahasia mu. Tapi rasa bangga ku tetap padamu mas karena dibalik penderitaanmu, kamu masih semangat menulis denga tulisan yang indah. aku kagum mas. sekian dulu ya mas sementara ini aku masih numpang alamat teman. insyaalah dalam waktu tidak terlalu lama aku usahakan punya email sendiri….wass. From. Asmarani Susi.